"Apaan si, pake rok kok tumpuk-tumpuk banget."
"Itu rok mau sekalian ngepel lantai ya lebar banget."
"Gausa yang aneh-aneh lah, yang biasa-biasa aja islamnya."
"Kamu ikut aliran mana?"
Astaghfiruallah..
Kadang, cuma bisa mengelus dada, senyum kecut sambil ngernyit bingung kalau denger ucapan-ucapan semacam itu. To be honest pertanyaan-pertanyaan di atas juga cukup sering ditanyakan ke saya setahun terakhir. Sedihnya ucapan semacam itu justru dilontarkan saudara-saudara seiman saya.
Kadang setelah ada pertanyaan-pertanyaan semacam itu suka merenung sih. Merenung motif, alasan mereka sampai bicara kaya gitu. Merasa yang mereka lakukan, mereka yakini sudah benar kah? Atau memang basicly "nyinyir" sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging? Entahlah. Tapi personally, saya sendiri merasa ungkapan-ungkapan semacam itu tidak seharusnya dilontarkan, apalagi pada seseorang yang sedang berusaha memperbaiki akhlaknya.
Sebenernya, saya sendiri ngga ambil pusing dengan perkataan-perkataan nyinyir semacam itu sih. Toh mba-mba yang jauh lebih baik akhlaknya dibanding saya (well, I'm not trying to say that I'm that good ya, pls jangan salah paham) bisa jadi mendapat perlakuan yang lebih buruk dari saya. Saya cuma "heran". Heran, kenapa yang baik malah dianggap aneh. Heran, kenapa yang insyaallah baik malah dinyinyirin? Lantas, islam seperti apa yang menurut mereka benar? Kenapa harus jadi muslim yang biasa-biasa aja kalau bisa jadi luar biasa?
Astaghfiruallah.. Astaghfiruallah.. Astaghfiruallah.. Tulisan ini benar-benar bukan bermaksud menyudutkan, bukan juga bermaksud 'nyinyir' ke mereka-mereka dengan kelakuan seperti yang saya tulis di atas. Tulisan ini cuma pure ungkapan hati saya tentang hal yang sudah lama menari-nari dalam kepala saya. Seperti judul tulisan ini, so how moeslem thought about islam it self? Bagaimana muslim memandang islam itu sendiri? Apakah sebagai identitas diri, pelengkap hidup, atau bahkan hanya sekedar pengisi kolom agama di KTP? Jika mereka, yang selalu nyinyir dengan mba-mba berniqab mengaku menganggap islam sebagai identitas mereka, lantas mengapa mereka tidak sedikitpun menghormati orang-orang yang sedang ikhtiar menjalankan sunah-sunahNYA itu? Mengapa mereka tidak mau mencoba belajar, mencoba berpikir alasan mengapa orang-orang itu berbeda? Terlebih lagi, mengapa mereka tidak mencoba memfilter, berpikir berulang kali sebelum mengeluarkan cibiran-cibiran seperti yang saya contohkan di atas? Astaghfiruallah..
Sungguh, bukan hak saya untuk menilai baik buruknya manusia. Tulisan ini sekaligus sebagai selfreminder untuk diri saya sendiri untuk terus belajar, untuk tidak gampang suudzon terhadap apa-apa yang saya tidak tau betul salah benarnya, untuk selalu berkhusnuzon. Seperti bagaimana saya terus mencoba berhusnudzon bahwa mereka yang terus mencibir itu mungkin memang belum cukup 'mature' untuk menghargai perbedaan, atau mungkin belum belajar lebih jauh tentang agama yang dianutnya. Atau saya pribadi yang masih harus terus belajar, yang masih dangkal sekali ilmunya, yang harus terus dipupuk semangatnya untuk senantiasa mengisi gelas yang masih kosong ini. Tulisan ini juga sebagai pengingat saya bahwa memang, agama itu adalah tanggung jawab setiap insan kepada Allah semata, adalah hak setiap insan juga menentukan jalan seperti apa jalan yang ditempuh untuk meraup rahmat dan ridlonya. Maka dari itu, yuk terus semangat untuk belajar, yuk terus semangat menebar kebaikan..
Dari gadis yang ingin terus mengisi gelas kosongnya..
Sungguh, bukan hak saya untuk menilai baik buruknya manusia. Tulisan ini sekaligus sebagai selfreminder untuk diri saya sendiri untuk terus belajar, untuk tidak gampang suudzon terhadap apa-apa yang saya tidak tau betul salah benarnya, untuk selalu berkhusnuzon. Seperti bagaimana saya terus mencoba berhusnudzon bahwa mereka yang terus mencibir itu mungkin memang belum cukup 'mature' untuk menghargai perbedaan, atau mungkin belum belajar lebih jauh tentang agama yang dianutnya. Atau saya pribadi yang masih harus terus belajar, yang masih dangkal sekali ilmunya, yang harus terus dipupuk semangatnya untuk senantiasa mengisi gelas yang masih kosong ini. Tulisan ini juga sebagai pengingat saya bahwa memang, agama itu adalah tanggung jawab setiap insan kepada Allah semata, adalah hak setiap insan juga menentukan jalan seperti apa jalan yang ditempuh untuk meraup rahmat dan ridlonya. Maka dari itu, yuk terus semangat untuk belajar, yuk terus semangat menebar kebaikan..
Dari gadis yang ingin terus mengisi gelas kosongnya..
Komentar
Posting Komentar