Assalamualaikum. Halo.. Hai..
Mau sedikit cerita, sisa lebaran kemarin..
Sore itu, satu chat masuk ke wassap. Dari seorang teman jaman kuliah
kemaren. Sebutlah namanya Juki. Kira-kira begini isinya
Juki: Assalamualaikum Gita, Mohon maaf lahir batin ya..
Gita: Waalaikumsalam. Iya Juk, maaf lahir batin juga ya..
Juki: Undangannya jangan lupa ya git..
Gita: Undangan apa Juk? (purapura nggak peka)
Juki: Ya mungkin undangan syukuran, lamaran, atau bisa juga undangan
nikah..
Glek. Alamak ini anak baru juga minta maaf uda bikin dosa lagi dia.
Jangan ditiru ya teman-teman. Wkwk. Becanda
Ngomong-ngomong soal pertanyaan “kapan” ini, pastilah kita semua
pernah mendapatkan pertanyaan semacam itu. Kapan sendiri banyak macamnya. Nggak
akan ada habisnya. Dan tentu saja yang paling hits dikalangan seumuran saya ini
tentu saja jenis kapan yang “Kapan Nikah?”
Untuk yang sudah punya pasangan pasti enteng-enteng saja ya jawabnya.
Lain lagi ceritanya kalau macam saya yang belum keliatan hilalnya ini,
pertanyaan seperti itu jadi momok tersendiri
bagi beberapa orang yang cuma bisa dijawab dengan senyum-senyum kecut
serba salah. Hehe. Tapi Alhamdulillah saya pribadi sih nggak terlalu sering ya
mendapatkan pertanyaan semacam itu, ya kecuali dari si Juki ini tadi. Dan
alhamdulillahnya lagi, saya nggak segitu terintimidasinya dengan
pertanyaan-pertanyaan semacam itu.
Kalau ngomong jodoh, saya rasa setiap orang punya perspektif
masing-masing. Alhamdulillah saya sendiri percaya sama janji Allah yang jelas menyebutkan
bahwa wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, begitu juga
kebalikannya. Karena saya ingin jodoh yang baik, maka saya coba rayu Allah
dengan memperbaiki apa-apa dalam diri saya yang masih banyak kurangnya. Pelan-pelan
tentu saja. Semua ada prosesnya. Tapi proses menuju baik ini tentu saja niatan
utamanya haruslah mengharap ridlo Allah ya. Jangan sampai niat-niat yang lain
melebihi niat meraup karunia-NYA. Apalagi kalau niatannya palsu-palsu, nanti
dikasih jodoh yang baiknya juga palsu-palsu, mau? Eh. Naudzubillah.
Balik lagi ke masalah yang baik insyaallah akan bertemu dengan yang
baik pula, seperti yang saya tulis di atas, saya usahakan sebaik yang saya
bisa. Dua arah. Ke Allah langsung dan ke kehidupan saya sehari-hari. Saya juga
gamau diam melulu menunggu si jodoh datang. Sebisa mungkin saya isi waktu saya
dengan kegiatan-kegiatan positif yang juga sebisa mungkin memperbaiki kehidupan
akhirat saya kelak dan kehidupan dunia saya saat ini. Saya juga sadar sih,
dulu, setidaknya sebelum satu tahun lalu, saya jauh sekali dari “baik”. Ya
sekarang juga bukan udah baik juga, tapi seeggaknya saya mulai tahu hakikat
hidup itu apa dan apa-apa yang kita lakukan akan diminta pertanggung jawabannya
nanti di akhirat. Eh? Kok jadi kemana-mana banget ya nulisnya hehe. Pokoknya intinya,
sebagai salah satu ikhtiar mendapatkan jodoh yang baik, sebisa mungkin saya
berusaha juga menjadi pribadi yang baik. Saya husnudzon aja, seseorang yang
namanya sudah tertulis di lauhul mahfudz juga sedang berjuang sama kerasnya
dengan saya. Berjuang menjadi pribadi yang lebih baik setiap saatnya. Ceilaaa
Dan ngomong-ngomong soal pertanyaan “kapan” di atas, sampai saat ini Alhamdulillah
saya mengkondisikan diri saya untuk tidak terprovokasi dengan
pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Tidak terprovokasi untuk senewen apalagi
untuk terus-terusan juga mempertanyakan kapan saya ditakdirkan untuk bertemu
dengan si jodoh. Karena menikah, menurut saya adalah hal yang sangat sacral. Insyaallah, sekali seumur hidup. Yang
setelahnya, resmilah suami saya nanti bertanggung jawab menanggung dosa dan
khilaf saya selama ini. Duh, kok berat banget jadinya. Hehe. Tapi memang, ini
yang memotivasi saya untuk berusaha lebih baik setiap waktunya. Karena
nantinya, setelah menikah, si jodohlah yang akan menanggungnya. Masa iya saya
tega membebankan banyak dosa ke si dia yang nantinya dicinta. Duilaa~
Semua pasti ada waktunya kok. Tenang aja. Yakin aja. Yakin sama janji
Allah ya, bukan sama janji si dia yang angin-anginan. Eh? Haha. Nggak ada yang
namanya terlambat dalam takdir Allah. Semua pas, tepat di waktu yang
seharusnya. Jadi kalo ada yang tanya kapan, selow aja. Husnuzon aja kalo
pertanyaan mereka adalah doa untuk kebaikan kita. Ya?
-Gita, sambil makan gorengan siang-siang dari mbah yi.
Komentar
Posting Komentar