Assalamualaikum. Bismillah.Lama gabersua dengan blog hehe. Kali ini saya ingin
membagi cerita soal one of the most
challenging selection I ever joined in ma life. Seleksi Beasiswa LPDP Luar
Negeri 2017. Kenapa saya sebut seleksi ini sebagai one of the most challenging selection? Karena memang seleksinya
super syekali. Super beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Super menguras
pikiran, tenaga, dan air mata. Eh yang terakhir itu mungkin saya aja ding ya
yang ngerasain saking saya baperan dan nangisan orangnya hehe. Oya, sebelumnya
saya mau sampaikan kalau postingan ini mungkin akan sangat panjang, hehe jadi
siap2 cemilan yaa ehehe!!
Jadi, apa bedanya seleksi LPDP taun ini dan taun sebelumnya? Kalo
dari tahapan seleksi, bedanya tahun ini nambah seleksi online assessment yang nanti akan saya jelaskan juga di bawah, nah
kalo dari syarat seleksi lumayan banyak yang berubah. Lengkapnya kalo mau kepo
intip-intip buku pedomannya aja yaa hehe saya juga nda apal semuanya soalnya
takut salah kalo kasih info soal itu di postingan ini. Dan Alhamdulillah
walaupun banyak sekali perubahan yang cukup signifikan dari segi syarat
peserta, saya Alhamdulillah masih bisa masuk salah satu kategori yang
diperbolehkan ikut seleksi LPDP tahun ini. Afirmasi prestasi. Walaupun modal
satu sertifikat aja yang bisa dipake hehe.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, seleksi dimulai dengan seleksi
administrasi. Kemudian di lanjut assessment
online test, dan yang terakhir seleksi substansi. Saya akan coba ceritakan
pengalaman saya melalui tiap tahapan tersebut satu persatu ya.
1.
Seleksi Administrasi
Seleksi administrasi di LPDP mungkin
tidak jauh berbeda dengan seleksi administrasi kebanyakan. Pada intinya kita
akan mengisi form isian yang sudah disediakan secara online, mengupload
berkas-berkas yang diperlukan juga sesuai dengan jenis beasiswa LPDP yang kita
pilih dan mensubmit sebelum batas akhir penutupan. Banyak yang bilang kalau
seleksi administrasi di LPDP adalah tahapan yang paling mudah dilalui karena
asal kita mengisi dan mengupload semua keperluan yang memang diharuskan di form
isian, maka kita sudah pasti akan lolos tahapan ini. Tapi menurut saya, justru
persepsi itu yang banyak membuat orang lalai akan beberapa hal. Membuat
beberapa orang melupakan detail. Belajar dari beberapa kecerobohan saya di masa
lalu berkaitan dengan administrasi, maka saya sama sekali tidak ingin
menyepelekan tahapan apapun dalam seleksi LPDP tahun ini. Apalagi karena
seleksi adinistrasi ini adalah tahapan pertama, tentunya saya tidak mau gagal
sia-sia hanya karena tidak teliti padahal sudah memenuhi semua persyaratan yang
diharuskan. Dan kalo ada yang tanya “Emang ada yang nggak lolos seleksi
administrasi?” Jawaban saya adalah “Ada. Dan nggak sedikit.” Kok bisa nggak
lolos? Padahal, kalau bisa submit aplikasi pendaftaran kan logikanya dia sudah
memenuhi syarat? Yep, benar sekali.
Kebanyakan cerita dari mereka yang tidak lolos di tahapan administrasi adalah
mereka sudah memenuhi syarat akan tetapi data yang mereka submit dianggap
kurang valid oleh penyeleksi, seperti mungkin ada beberapa dokumen yang mereka
upload dianggap tidak bisa diverifikasi keabsahannya karena mungkin scan
dokumen ngeblur, terpotong, tidak terbaca, atau bahkan memang palsu. Bisa jadi
juga, mereka keliru mengupload dokumen di kolom yang sudah disediakan.
Contohnya, di kolom upload ijazah, yang diupload keliru scan transkrip nilai,
begitu juga sebaliknya. Hal-hal seperti ini yang kadang banyak orang kurang
perhatian dalam berbagai macam jenis hal yang berkaitan dengan adiministrasi,
padahal akibatnya sangat fatal. Apalagi kalau berkaitan dengan seleksi
administrasi LPDP yang tim penyeleksinyapun sudah pasti sangat teliti memeriksa
semua aplikasi yang masuk ke system. Karena itu, pada bagian ini saya ingin
membagi sedikit pengalaman dan saran terkait seleksi administrasi LPDP LN yang
saya lalui tahun ini, siapa tahu mungkin bisa membantu teman-teman yang akan
mengikuti seleksi ini tahun depan,seperti:
a.
Baca dan pelajari baik-baik
buku panduan pendaftaran beasiswa beserta form isian online. Kalau saya kemarin
berusaha memahami apa yang dimaksud di form isian online pendaftaran sambil
baca pedoman pendaftaran, jadi tahu jelas apa yang dimaksud di setiap poinnya.
Apalagi di buku pedoman pendaftaran juga sudah disediakan contoh isian setiap
poinnya. Jadi insyaallah nggak perlu kuatir salah isi selama kita mengikuti
panduan. Kalo masi bingung juga, segera tanya CSO atau teman seperjuangan
pendaftaran, atau teman-teman awardee yang berpengalaman. Saya juga gitu si
kemarin. Selain mengandalkan buku pedoman, saya juga tanya CSO dan beberapa
kenalan awardee, cuma untuk crosscheck
apakah yang saya isi di form isian tersebut sudah sesuai dengan yang diminta
atau belum. Jadi kuncinya jangan males baca dan bertanya yang gan sist.
Temen-temen awardee juga pasti seneng banget kok kalo ditanyain. Jadi jangan
sungkan wqwq (soktau).
b.
Setelah khatam, paham maksud
isian form online, segera siapkan berkas—berkas, dokumen yang diperlukan.
Dikumpulkan lalu di scan yang bagus, rapi, jelas. Dokumennya apa aja sih yang
diperluin? Tergantung daftarnya jalur apa. Tapi nggak beda jauh sih sebenernya.
Untuk masalah scan dokumen dan menatanya dengan baik untuk bisa sesuai dengan
kriteria system online LPDP, saya sendiri kemarin butuh waktu berhari-hari.
Apalagi untuk merger dan compres pdf saya harus mengulang berkali-kali untuk
memastikan file yang akan saya upload nanti tetap jelas dibaca walaupun
decompress berulang kali. Kenapa harus di merger dan decompress? Karena ada
beberapa kolom upload dokumen yang bisa saja dokumen yang diupload lebih dari
satu tapi batas maksimal ukuran file tetap sama, 1 mb. Kalau saya kemarin yang
lumayan lama proses editingnya di bagian upload dokumen lain-lain. Hehe karena
nama kolom uploadnya “dokumen lain-lain”, maka dokumen apapun yang dirasa dapat
mendukung aplikasi kita dapat diupload disini. Bagi yang aktif ikut ini itu,
punya banyak sertifikat pasti cukup bigung memilah mana yang harus diupload
saking banyaknya sertifikatnya. Saya yang cuma ikut itu-itu aja saja mengalami
hal demikian hehe. Akhirnya saya putuskan upload dokumen yang benar-benar
penting saja, seperti sertifikat lomba, organisasi, panitia, pembicara workshop
dan sertifikat asisten praktikum. Total ada 14 sertifikat yang saya upload
dalam satu file. Coba bayangkan, scan satu lembar sertifikat saja besar filenya
sudah hamper 1 MB gimana bisa 14 scan sertifikat masuk dalam satu file dokumen
dibawah 1 MB? Bisa kok bisa hehe. Saya kemarin mengakalinya dengan menscan
seluruh dokumen tersebut, crop gambar scannya, save as pdf, merger semua file
yg sudah diperlakukan serupa, kemudian compres. Ribet? Hehe kenyataannya justru
jauh lebih ribet dari sekedar menuliskannya disini.
c.
Kalo uda selesai semua urusan
pendokumentasian dokumen-dokumen yang diperlukan, monggo mulai diisi form
aplikasi onlinenya. Nggak usah grusa-grusu. Pelan-pelan aja, teliti setiap
detailnya.Sering-sering juga cocokkan dengan buku pedoman. Dan untuk
dokumen-dokumen yang diupload, saran saya download ulang file-file itu dari
form aplikasi untuk memastikan kalau dokumen yang kita upload adalah dokumen
yang benar.
d.
Lalu tentu aja, saran dari saya
yang paling penting adalah jangan jadi DEADLINERS!! Pendaftaran LPDP tahun ini
dibuka 2-4 bulan sebelum penutupan. Ada cukup waktu untuk mempersiapkan
semuanya sebenarnya kalau kita memang benar-benar niat untuk ikut seleksi ini. Apalagi,
kalau dari sekarang mungkin ada teman-teman yang sudah niat akan ikut seleksi
tahun depan, maka jangan buang-buang waktu untuk mulai mempersiapkan semuanya
dari sekarang. Saya sendiri mulai menyicil keperluan-keperluan untuk ikut
seleksi LPDP tahun ini mulai April 2016. Lama? Enggak juga, banyak orang yang
bahkan mempersiapkan diri mereka untuk ikut seleksi LPDP jauh lebih lama
daripada saya. Ya walaupun pada akhirnya saya tetep submit H-5
sebelum pendataran ditutup hehe. Dan ya, kenapa saya saran untuk nggak jadi
seorang deadliners disini? Karena, kamu nggak akan tahu ada berapa puluh,
ratus, atau mungkin ribu orang seindonesia yang juga jadi deadliners dan
rebutan submit aplikasi menjelang tenggat waktu yang ditentukan. Website down
dan eror bahkan merupakan hal yang selalu terjadi saat medekati tenggat waktu
penutupan pendaftaran aplikasi LPDP. Saya pribadi sangat mengerti kalo pasti
ada juga banyak kasus yang menjadikan banyak orang baru bisa submit menjelang
deadline. Tapi kalo temen-temen ada yang beneran udahh niat mau daftar, saran
saya segera dipersiapkan. Well prepare is much better than struggle for
submitting application when the deadline approach. Wkwk seenggaknya kalau kamu
udah submit aplikasi jauh-jauh hari, kamu nggak perlu begadang sampai pagi Cuma
untuk memastikan kalau semua dokumen kalian sudah terupload sempurna hehe. BTW
untuk batch 2 LN LPDP tahun ini, pihak penyelenggara berbaik hati memperpanjang
waktu pendaftaran menjadi seminggu setelah deadline awal. Eits, tapi ini tetep
bukan alasan untuk leha-leha ya. Wkwk
2.
Assesment Online
Lanjut ke seleksi kedua yang juga merupakan satu tahapan baru di
tahun 2017 ini. Asesment Online. Jadi assessment online ini merupakan tes
psikologi yang diadakan secara online
dimana semua peserta wajib mengikutinya pada satu hari yang telah ditentukan. Assesment
online LPDP tahun ini, baik tujuan dalam negeri dan luar negeri mekanismenya
sama. Semua peserta diharuskan mengerjakan dua jenis tes yaitu VMI dan 15FQ+.
Penjelasan kedua tes ini mungkin bisa digoogling sendiri ya hehe. Di google uda
banyak banget penjelasannya.
Karena kedua tes tersebut adalah tes psikologi, maka sudah jelas
nggak ada jawaban salah atau benar. Total soal kedua tes itu sendiri sekitar
300an yang lazimnya dikerjakan dalam waktu satu jam. Pertanyaannya sendiri
memang menggali kepribadian kita seperti apakah kita cenderung menjadi leder
atau follower, apakah kita pribadi yang percaya diri atau skeptic, atau apakah
kita pribadi yang emosional atau tenang dan banyak parameter lainnya yang saya
rasa diukur dari kedua tes tersebut. Bisa dicari lebih jauh di google kalau mau
tau lebih banyak soal kedua tes ini. Saya sendiri juga baca beberapa referensi
terkait kedua tes tersebut. Hanya sekedar ingin tau seperti apa kedua tes itu
dan bentuk penilaiannya seperti apa. Saya juga coba ambil beberapa free
psycology test online hanya untuk memahami seperti apa kepribadian saya
sekaligus untuk mengukur berapa lama
kira-kira waktu yang saya butuhkan untuk menjawab satu soal. Dari hasil coba-coba tes online itu sendiri
saya juga sadar di bagian mana saya masih lemah. Maksud saya lemah disini
adalah bagian yang saya harus improve kedepannya. Ini murni untuk referensi
pribadi sih, bukan untuk menggantinya dengan jawaban lain jika soal-soal serupa
juga ditanyakan di assessment online LPDP. Toh kita nggak pernah tau pribadi
seperti apa yang dicari LPDP lewat tes ini. Jadi kalo ditanya tips trik
menghadapi tes ini, I really don’t have any idea selain mempersiapkan hal-hal
teknis yang nantii akan dikirim LPDP via email menjelang hari H pelaksanan tes
seperti gadget yang sebaiknya digunakan, resolusi layar, kestabilan jaringan
interet dan lain sebagainya. Ini penting sekali sih menurut saya terutama untuk
menjaga ketenangan kita selama tes hehe. Oh ya karena yang akan mengikuti tes
ini anggaplah ribuan orang seindonesia, maka sebaiknya hindari mengambil tes di
jam-jam padat. Karena pengalaman dari beberapa teman yang ambil tes saat
jam-jam padat (siang-malam), laman tes onlinenya cukup susah diakses bahkan ada
beberapa yang eror dan nggak bisa submit hasil tes.Saya sendiri kemarin
mengambil tes pukul 06.15-07.15 di tempat yang Alhamdulillah jaringan
internetnya cukup bagus sehingga Alhamdulillah saya tidak mengalami kendala
teknis apapun saat tes dan dapat menyelesaikan tes tersebut dengan lancar. Eh
kecuali batrai laptop saya sudah sekarat saat akan melaksanakan gara-gara
malaamm sebelumnnya keasyikan tes online gratis hingga lupa menchargernya
sehingga saya harus nempel di colokan tembok selama tes. Hehe kesalahan saya
ini jangan sampai diulang ya manteman. Fatal banget kalo sampai tiba-tiba
ditengah jalan laptop mati tiba-tiba. Ah
ya dan satu lagi, saya nggak seratus persen yakin si ini sebenarnya tapi ini
yang saya lakukan kemarin: konsisten menjawab. Jadi dalam assessment online
LPDP kemaren, ada banyak soal yang diulang dengan kalimat yang berbeda. Dan
sebisa mungkin saya konsisten menjawab dari awal. Untuk memastikannya saya juga
mengoreksi keseluruhan jawaban saya sebelum mensubmit jawaban, sekalian
memastikan semua pertanyaan sudah saya jawab. Ada juga beberapa pernyataan yang
harus kita setujui atau tidak seperti “Siput adalah hewan tercepat di dunia”
dan “Nias adalah bahasa yang paling banyak digunakan di dunia” yang keduanya
saya jawab realistis: tidak. Tapi ada
juga sih yang menjawab iya dan juga lolos. Jadi tergantung preferensi
masing-masing ya.
3.
Seleksi substansi
Setelah dua tahapan terlalui, Alhamdulillah sampailah saya pada tes
substansi LPDP yang dilaksanakan September lalu. Ini jadi tahapan yang jujur
saja paling mendebarkan dan memberikan pressure cukup berat untuk saya hahaha.
Dan ya, seperti tes substansi LPDP sebelumnya, tes substansi yang saya lalui
kemarin terdiri dari tiga jenis tes: wawancara, LGD, essay on the spot. Saya
sendiri mendapat jadwal wawancara di hari pertama, LGD & EOTS pada hari
ketiga. Nah, karena setiap tahapan tesnya punya cerita tersendiri, saya akan
bagi lagi jadi tiga bagian ya:
a.
Wawancara
Ngomong-ngomong soal tes wawancara,
sampai saya menuliskan ini rasanya saya masih bisa merasakan atmosfir ruang
wawancara yang sukses membuat ritme detak jantung saya berantakan. Siang itu,
sekitar pukul 1 siang, selepas verifikasi dokumen, saya bersama beberapa teman
yang juga baru kenal hari itu jalan ke kantin GKN untuk makan siang karena
perut saya udah super keroncongan dan kepala saya mulai muter-muter saking
lapernya. Well, saya memang bukan tipe orang yang bisa menahan lapar
sebenarnya. Dan karena waktu wawancara saya masih jam 3 lebih, saya memutuskan
untuk mengisi tenaga dulu supaya pikiran saya cukup jernih menjawab setiap
pertanyaan dalam wawancara nanti. Tapi ternyata, manusia berencana Allah
menentukan. Di suapan kelima gado-gado saya, teman saya yang menunggu didepan
layar pengumuman mengabarkan kalau nama saya dipanggil untuk wawancara. Reaksi
saya saat itu langsung heboh mengingat harusnya saya wawancara dua jam lagi,
cepat-cepat meninggalkan kantin lari ke tempat wawancara. Saya bahkan lupa
sudah sempat minum dulu atau belum, lupa juga nitip uang ke temen buat bayar
gado-gado wkwk, bahkan nggak sempet mengabari lagi ke orang tua kalau jadwal
saya mendadak maju seperti yang biasa saya lakukan. Yang Alhamdulillah saya
ngga lupa adalah shalawat dan istighfar sesaat sebelum menghampiri meja
pewawancara. Saat itu saya juga sudah membesarkan hati saya, berusaha ikhlas
“Kalau memang belum sekarang waktunya maka akan saya jadikan tes ini sebagai
pelajaran untuk selanjutnya.” Dan Alhamdulillah saat sampai di meja wawancara,
ketiga pewawancara terlihat sangat exited yang Alhamdulillah menular kepada
saya. Saya jabat tangan ketiga pewawancara tersebut sebelum duduk. Kemudian,
kirakira berikut ini pertanyaan yang dilontarkan sepanjang wawancara saya
kemarin:
1.
Perkenalan diri
2.
Alasan memilih Wageningen?
3.
LPDP mampu membayar universitas
yang lebih mahal dan lebih baik, kenapa masih mau pilih Wageningen?
4.
Pertanyaan seputar kegiatan
kuliah saat S1
5.
Pertanyaan tentang biggest achievement
6.
Pertanyaan seputar worst
experience
7.
Pertanyaan seputar ketakutan
terbesar
8.
Apakah pernah hidup jauh dari
orang tua? Bagaimana mengatasi homesick?
9.
Selesai master pengen ngapain?
Gimana cara achievnya?
10.
Gimana cara adaptasi di
lingkungan yang mayoritasnya non muslim? Kenapa ngga milih negara yang banyak muslimnya aja?
Kirakira selama satu jam wawancara,
begitulah yang ditanyakan pewawancara pada saya. Keluar ruang wawancara jujur
saja perasaan saya ngga karuan. Udah pengen nangis, tapi ngga bisa hehe.
Sebenernya, wawancara saya ngga sebegitu berantakannya, di awal dan akhir
wawancara ketiga pewawancara juga terlihat cukup puas dengan jawaban yang saya
berikan. Hanya saja, entah bagaimana pertanyaan tentang agama begitu sensitive
bagi saya. Bukan apapa tapi saya merasa cara pandang pewawancara agak berbeda
dengan saya sehingga saya cukup banyak dilontari pertanyaan mengenai agama.
Tapi Alhamdulillah beliaubeliau tidak serta merta menyudutkan dan pada akhirnya
saya juga sadar bahwa kesimpulan yang dapat ditarik dari jawaban saya cukup
memuaskan mereka tanpa sedikitpun melenceng dari apa yang saya percaya. Lalu
kenapa saya sampai ingin menangis? Entahlah. Saya hanya merasa belum bisa
memberikan yang terbaik, belum bisa mengarahkan pewawancara untuk mengeksplore
diri saya lebih jauh. Study plan saya bahkan tak tersentuh. Halhal yang juga
sudah saya siapkan tidak ditanya sama sekali. Apalagi, beberapa teman sumringah
sekali setelah keluar dari ruangan wawancara. Jujur saja, saat itu saya ciut.
Tapi saya tidak mau larut dalam kegalauan tak bertuan tersebut hehe. Masih ada
dua tes lagi yang masih menunggu. Oya, belajar dari pengalaman saat wawancara
kemaren, saya ada beberapa saran untuk tementemen yang berminat mendaftar LPDP
setelah ini:
1.
Siapkan list pertanyaan dan
latihan sesering mungkin. Ini membantu
sekali si. Bagi saya setidaknya, karena Alhamdulillah pertanyaan yang
ditanyakan saat wawancara kemarin hampir 80% sama dengan list pertanyaan yang
sudah saya susun sebelumnya. List pertanyaan ini isinya macemmacem banget mulai
dari aspek kepribadian, keilmuan,
kontribusi, bela negara, dsb. Buat serinci mungkin kalau bisa. Jangan sampai
ada celah yang membuat interviewer jadi ragu dengan jawaban kamu nantinya. Eits,
tapi membuat list ini juga ada tantangannya lo. Jangan sampai terlihat seperti
menghapal ya nanti saat wawancara sesungguhnya, natural aja.
2.
Saat wawancara, usahakan rileks
dan sopan. Jangan terlalu gugup tapi juga jangan terlihat menyepelekan.
Tunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang menarik, percaya diri sekaligus rendah
hati.
3.
Jangan lupa senyum juga. Ini
penting banget, terutama untuk mengurangi rasa tegang.
4.
Be on time. Kejadian kemarin
saat waktu wawancara saya maju dua jam dari jadwa seharusnya adalah karena
banyak peserta dari meja wawancara yang sama dengan saya telat datangnya. Saya
sendiri ngga tau pasti si apakah mereka yang telat datang tetap akan dipanggil
lagi atau di cut saat itu juga. Tapi percayalah, datang jauh lebih awal itu
ngga ada ruginyaa.
5.
Banyakbanyak doa. Kalo yang
muslim banyak2 shalawat biar tenang.
Uda si, mungkin tips2 untuk wawancara
itu aja, cus ke tes selanjutnya~
b.
Essay On The Spot & LGD
Pada tes LPDP ini, saya mendapat
kelompok EOTS dan LGD 15B yang berarti adalah kelompok terakhir ya mengikuti
EOTS dan LGD pada tes substantf LPDP batch 2 2017 di Surabaya. Keuntungannya,
sudah banyak terdengar desasdesus topic yang keluar dua hari sebelumnya.
Sedihnya, hampir semua topic yang keluar belum saya pelajari sebelumnya. Okey,
untuk menghadapi EOTS dan LGD kemarin, saya banyak mempelajari topiktopik yang
sedang hangat di masyarakat. Ada banyak topic yang saya pelajari kemarin,
sayangnya hanya sedikit yang keluar pada dua hari sebelumnya. Akibatnya sisa
waktu yang ada saya gunakan sebaik mungkin untuk memepelajari beberapa topic
yang sudah keluar. Tapi Alhamdulillah, karena saya sudah ada niatan mendaftar
LPDP tahun ini dari tahun lalu, sejak itu pula saya langganan baca Jakarta
Post. Dan beberapa topic memang bukan topic yang sedang hangat saat itu seperti
kapal Caledonia yang menabrak terumbu karang di Raja Ampat (kejadiannya sekitar
Maret/April 2017), hukuman kebiri, kenaikan tariff dasar listrik, konflik
rohingnya, dana abadi haji, pajak penulis dan beberapa topic lainnya. Karena
EOTS dan LGD samasama menggunakan bahasa inggris, maka saya biasakan juga
mencari sumbersumber berita terbaru berbahasa inggris seperti dari Jakarta
post, Jakarta globe, dan tempo. Lumayan,
sekalian nambah vocab soal berita berita terkait hehe. Waktu kemaren tes, saya
dapat pilihan topic kenaikan tariff dasar listrik dan pajak penulis saat LGD,
dan tanggapan mengenai upacara sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan
nasionalisme. Jujur, saya merasa lebih rileks saat menjalankan kedua tes
terakhir ini jika dibandingkan dengan tes wawancara dua hari sebelumnya.
Mungkin karena tesnya bareng sama beberapa orang dan waktunya juga ngga maju
jauh dari seharusnya. Alhamdulillah. Kalau dari saya sendiri, ada beberapa tips
mungkin yang bisa saya bagi:
1. Rajinrajin mengikuti berita paling
ngga setengah tahun dari tes diadakan. Cari sumber yang kredibel, baca juga
pendapat dari netizen, sekedar untuk memberi insight atau memperkuat opini
kita. Untuk konsumsi harian, seperti yang sudah saya tulis di atas saya biasa baca
Jakarta post, Jakarta globe dan tempo. Untuk tontonan, saya biasa ngikutin
aiman dan rossie di kompas tv, dan mata najwa (sekarang mungkin bisa pindah ke
channel youtube catatan najwa ya hehe) dan Indonesia morning show.
2. Setelah baca satu berita, bikin
resume. Bisa sekalian latian nulis essay juga untuk EOTS.
3. Setelah resume dan essay dibuat,
bisa juga jadi bahan untuk latihan LGD.
4. Untuk latian LGD, selain latihan
sendiri bisa juga sesekali latihan dengan peserta lainnya. Biasanya menjelang
tes, latihan LGD akan rutin dilaksanakan
di grupgrup sesama peserta. Oh ya bergabung dengan grup sesame peserta ini
penting banget lo. Selain bisa nambah temen, juga bermanfaat sekali karena akan
banyak banget info yang disebarkan secara cumacuma disana. Jadi, keep update
ya. Biasanya grupgrup semacam ini akan dibentuk via telegram dan whatsup J
5. Saat tes kondisikan diri kita
untuk tetap tenang, apapun yang terjadi. Karena panic hanya akan memperburuh
keadaan. Jadi, kalau missal benerbener clueless sama temanya, tetap tenang.
Jernihkan pikiran, berdoa yang banyak, istighfar yang banya, insyaallah ada
jalannya. Hehe keliatannya ngga make sense banget ya? Tapi itu yang terjadi
pada saya yang kemaren juga clueless banget sama topic yang disediakan, baik di
LGD ataupun EOTS. Alhamdulillah walaupun bahasa inggris saya kacau, tapi Allah
beri kelancaran.
6. Cermati intruksi yang diberikan,
baik secara lisan maupun tulisan yang tertera pada lembar soal yang kita terima
nanti.
7. Waktu LGD, posisikan diri kita
sebaik mungkin. Maksudnya, hormati siapapun yang sedang berbicara. Jangan
sampai saling menjatuhkan. Sampaikan apa yang kita ingin sampaikan dengan
sebijaksana mungkin. Jangan terlalu cepat juga saat menyampaikan dan jangan
lupa usahakan tetap tersenyum J
Hmm kirakira begitu si kemaren
pengalaman saya mengikuti serangkaian tes LPDP LN 2017. Cukup drama ya? Hehe
aslinya lebih drama lagi si wqwq. Panjang banget juga, semoga yang baca ngga
bosen yaa. Semoga bermanfaat jugaa. Dan iya, Alhamdulillah 25 Oktober 2017
kemarin saya dinyatakan lolos seleksi substansi. Alhamdulillah..
Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Tentu saja ini semua berkat pertolongan dari
banyak pihak ya. Behind the scenenya akan saya share juga lain waktu hehe. Oyakalau
mau tanyatanya bisa langsung DM saya di instagram @agintafriska ya.Insyaallah
akan saya balas kok hehe. Akhir kata, Wassalamualaikum,
see you soon :3
Komentar
Posting Komentar