Langsung ke konten utama

A Talk: Early Age Sex Education


Assalamualaikum. Halo hai.. Finally this neglected blog posting something after hundreds eclipse passed. LOL. Again, it represents how bad I can’t manage my time well to  write something here.
Anw, this post inspired by gitasav’s last vlog concerning on sexual harassment which directly or indirectly happened in our society, the recent series I deliberately watched: 13 reasons why, the recent Via Valen issue, and obviously my own observation..
As a child, a woman, a girl, have you ever been threated inhumane? Or, let me say it clearer. Have you ever been a victim of sexual harassment? I bet, yes you guys used to. Miserable. Then, what you did after got those damn uncomfortable things? Nothing? Terribly miserable.
That’s us. Women. Claimed as a weak. Preys of those stupid cruel guys. And we just keep silent. Let this phenomenon blow away by the wind. Try to forget, try to forgive, but can’t.
I was burnt in a mad, literally. But this time I do not want to write my comment regarding this issue. I, totally agree with what GitaSav said in her video. Just visit her channel if you are too curious about her thought. So, what I’m going to write here? The way you could overcome this harassment happen to your child, your friend, your cousin, your nephew, anyone in your surrounding. Sex education to early age.
Well yah, I conscious that it’s a bit far from what I write at the beginning. But, since it’s still in the same area, and I think it’s an essential topic to talk about, then I’ll continue Hehe.
 Some of us probably didn’t recognize how pivotal educating our child to be aware toward this threat. Whreas, evidence shows that more and more sexual abuse happen to child and the preparator mostly comes from the nearest. Thus parents should put their concern on this.
Back then, I happened to read an instastory a friend of mine who attended a parenting seminar. She shared her understanding on the way we could attempt to prevent our kids being a victim of any sexual harassment. Frankly, I was so surprise after read the method. And feel knowledgable. A bit. At least, now I know how to tell my children later.
Anw, as I want to share this post, the method I mention above will be written in bahasa to make it more understandable (pardon my poor writing skill, still practicing wqwq).
Jadi, kurang lebih metodenya seperti ini:
  1. Untuk toddler (anak usia 1.5 sampai 3 tahun), kita bisa gunakan mainan kesukaannya. Usahakan yang punya bentuk menyerupai manusia (punya kepala, badan, tangan, kaki). Untuk yang perempuan mungkin bisa pakai boneka (bisa Barbie atau sejenisnya) sedangkan yang lakilaki bisa pakai robot mainan atau sejenisnya. Peralatan ini nggak mutlak ya, bisa diganti dengan yang lain. IMHO, sarana ini juga sebenarnya masih bisa diberikan ke anak diatas usia tiga tahun. Jadi, be creative J
  2. Kemudian, kita beri tanda warna pada bagianbagian tertentu si boneka. Bisa disamakan saja dengan warna traffic light supaya mudah, terutama untuk yang sudah paham arti warnawarna tersebut. Hijau untuk bagian yang boleh disentuh, kuning untuk daerah yang cukup sensitif , dan merah untuk bagian yang tidak boleh disentuh. Pembagian zona warna tersebut kirakira seperti ini. Area hijau meliputi kaki dan tangan, kuning meliputi paha dan perut, sementara merah adalah area payudara, kemaluan dan bibir. Pembagian area ini sebenarnya juga tidak mutlak ya, sesuai dengan persepsi masingmasing orang tua. Kalau missal ada beberapa bagian yang tidak setuju dimasukkan ke salah satu zona, mari dimasukkan saja ke zona lain. Yang diatas hanya saran J
  3. Kemudian orang tua bisa mulai melakukan pendekatan ke anak. Kalau mbakmbak ini mencontohkan dialognya kirakira seperti ini.   “Sayangnya bunda, mulai sekarang bagianbagian ini ngga boleh sembarangan di pegang ya. Karena ini daerah yang privat. Apa itu daerah privat? Daerah privat itu adalah daerah yang ngga boleh sembarangan orang lain pegang dan lihat ya, sayang.”“Yuk ini bunda punya mainan. Yang warna hijau itu daerah yang orang boleh pegang. Yang kuning adek harus hatihati. Kalau yang merah gabole dipegang sama sekali sama orang lain. Tandanya “STOP”.”Atau mudahnya ajarin kaya ramburambu lalu lintas: Merah stop, kuning hatihati dan hijau jalan. Biar mudah dan asyik ngajarinnya.. Anyway, sekali lagi dialognya nggak harus saklek kaya di atas ya, Itu saya cuma ambil contoh dari postingan referensi. Harus pintarpintar improvisasi. Yang paling penting, bahasanya harus konkrit dan sederhana. Hatihati dalam pemilihan kata. Jangan sampai katakata yang gunakan malah bikin anak kita takut atau parahnya sampai trauma. Gak mau kan? J Setelah kita lakukan simulasi itu, jangan lupa untuk mengetes apakah anak paham atau tidak. Kalau belum paham, jangan menyerah. Jangan dipaksa juga anak langsung paham. Kita coba lagi lain kali. Sabar. Lakukan terus pengulangan sampai anak paham ya J
  4. Setelah mengajarkan zonazona tubuh tersebut, penting juga mengedukasi si kecil tentang apa yang harus dilakukan ketika penyerangan terjadi. Ajarkan mereka untuk berani bilang tidak, nggak suka, menjerit, menggigit, nendang, dan beberapa pertahanan kecil lainnya kalau misalnya daerah privatnya disentuh. Jangan lupa juga mengajarkan anak untuk lari ke tempat ramai jika penyerangan terjadi. Kenapa ke tempat ramai?  Supaya dia bisa minta bantuan ke orang lain. Karena biasanya anak cenderung bersembunyi sendirian ketakutan. Dan itu justru berbahaya. Karena ketika si pelaku menemukan, ngga ada lagi yang bisa menolongnya.
  5.  Setelah terjadi penyerangan, beberapa hal yang perlu orang tua lakukan adalah:
a. Kontrol respon: Sebagai orang dewasa, jangan histeris didepan anak. Karena biasanya, anak trauma bukan saja karena  pelecehan itu terjadi, tetapi juga reaksi yang berlebihan dari orangorang disekelilingnya (ex: marah, heboh, panggil polisi, anak diinterogasi, dll). Anakanak usia dini belum sadar kalau itu adalah tindakan kekerasan seksual. Karena kognitifnya belum sampai. Mereka masih polos, gatau kalo itu salah. Jadi kalau respon kita berlebihan, mereka akan bingung dengan perubahan mendadak yang terjadi itu.
b. Tanyakan yang terjadi. Jangan lupa, tanyanya dengan tenang ya, percaya dengan ceritanya, bertanya dengan tidak teriak atau marah, jangan sampai kita malah menghakimi anak ya J
c. Perhatikan luka fisik atau perubahan yang terjadi. Biasanya ditandai dengan daerah vagina/penis yang berdarah, pipis sakit, anus sakit. Atau dia yang tadinya periang jadi murung, suka histeris, dsb.
d Jelaskan perlahan jika yang terjadi sudah lewat. Kita sekarang melangkah kedepan.
eBawa ke professional (anak harus disiapkan dulu):
Simulasinya bisa seperti ini: “Sayangnya bunda, nanti ada tante yang mau ngobrol sama adek ya. Gapapa, tantenya baik kok. Nanti adek  sambil main disana. Ada bunda sayang, jadi adek ngga usah khawatir ya.”
Note: biasanya yang harus diterapi traumanya ga cuma anak, orang  tua juga. Karena biasanya duaduanya mengalami trauma berat. Mana ada orang tua yang baikbaik saja anaknya diperlakukan tidak pantas. Ya kan?
6. Ajarkan anak akan rasa malu di 5 tahun pertama kehidupannya:
·         Diusia 3 tahun, mulai diajarkan untuk menutupi daerah privatnya, seperti “Kak malu kelihatan itu. Ayo, ditutup ya.”
·         Ketika di tempat umum, orang tua berusaha melindungi daerah privat sang anak dan menunjukkan perilaku, “Kak malu sayang. Sini kakak buruan pakai celananya. Bunda tutupin biar ga keliatan.”
·         Beri tahu anak, siapa yang boleh memegang atau menyentuh daerah privatnya, “Selain bunda sama ayah, daerah yang ini gaboleh dilihat siapasiapa ya kak. Bunda sama ayah juga lihatnya hanya kalau kakak butuh bantuan. Bunda dan ayah juga hanya bantu  ‘membersihkan’ saja tidak melakukan hal lain selain itu, okay? Tapi kakak lakukan dulu ya. Baru minta bantuan bunda sama ayah jika terpaksa. Kalau ada orang lain yang berusaha menyentuh bagian privat kaka, kaka bilang ‘No’ terus bilang ke bunda sama ayah, biar bunda sama ayah tegur orang itu ya.”
·         Jika anak sudah tau siapa saja yang boleh melihat daerah privatnya, biasakan untuk izin kepada anak untuk melepas bajunya jika butuh bantuan.
·         Kalau anak sudah sekolah, please pesen ke gurunya untuk melakukan hal yang serupa J
7. Setiap tingkat perkembangan anak, berbeda cara menjelaskannya.
a.       Toddler                        : 1.5 hingga 3 tahun
b.      Early childhood         : 2 hingga 7 tahun
c.       School age                  : Mulai usia 7 tahun
d.      Pre Remaja                 : Mulai usia 9 tahun
e.      Remaja                         : Mulai usia 11 tahun
·         Jika anak usia 2 tahun bertanya tentang perbedaan alat kelamin, tidak perlu menjelaskan secara rumit. Cukup jawab apa yang ia tanya, selama ia tidak mengeluarkan pertanyaan lanjutan, tidak perlu dilanjutkan. Karena anak usia toddler dan early childhood belum mampu berimajinasi yang berlebihan seperti remaja. Yang ada dia bingung kalau pernjelasannya terlalu berbelit.
·         Nanti, anak usia school age, beda lagi edukasinya. Karena kognitifnya sudah mulai banyak. Dijelaskannya bisa dari segi ilmu pengetahuan sederhana. Karena di sekolah sudah mulai diajarkan. Saran dari psikolog, gunakan bahasa ilmiah ketika menjelaskan tentang perbedaan alat kelamin. Jangan buat perumpaan yang anehaneh.
Perempuan        : vulva/vagina
Lakilaki                  : Penis&Testis
Karena banyak orang tua, yang menggunakan perumpamaan sesuka sendiri, saking tabunya menyebut nama ilmiah alat kelamin. Contoh, ada orang tua yang mengumpamakan vagina itu sebagai ‘dompet’. Yang bahaya, ketika ada yang tahu kebiasaan tersebut kemudian orang tersebut bilang, “Dompet kamu boleh loh dimasukkan uang.” NAHLOH. Ingat loh, 30% pelaku itu memiliki relasi yang dekat dengan korban. Harus hatihati banget kan?
       8. Kemudian, untuk anakanak perempuan di usia School Age, terutama anak perempuan yang          kirakira akan mendapat haid pertama kali seperti:
·         Beri pengertian bahwa setiap perempuan akan mendapat haid pada waktunya. Edukasi mereka apa itu haid dan bahwa haid adalah siklus yang dialami semua perempuan yang sehat. Jangan lupa juga untuk mengedukasi anakanak kita cara memakai pembalut yang baik dan benar ya J
·         Setelah itu beri pengertian juga bahwa jika ia mengalami haid pertama di sekolah, untuk tetap tenang dan mencari guru perempuan untuk mencari pertolongan.
·         Jangan lupa, edukasi si kecil bahwa jika masa haid datang, bahwa sebagai muslimah ia tidak diperkenankan sholat, puasa, dan menyentuh mushaf. Akan tetapi mereka tetap diperkenankan mengaji menggunakan aplikasi di hp, berdzikir dan sunah2 lainnya J
·         Jangan lupa, pilihan kata dan bahasa tetap harus diperhatikan agar si kecil paham dan tak takut menghadapi masa haidnya J
19.Hal penting lainnya tentang pendidikan seksual anak usia dini adalah: Saling diskusi dan bagi peran dengan pasangan hidup ya J Penting banget untuk kompak antara suami dan istri suapaya anak nggak bingung. Kalau perlu, edukasi juga keluarga terdekat untuk memperlakukan anak sama seperti kita. Oya, tugas edukasi anak lakilaki usia baligh (tandanya sebentar lagi akan mengalami mimpi basah/wet dream) adalah tugas AYAHNYA ya. Bukan tugas bundanya. Karena hanya ayahnya yang tahu persis bagian itu. Jadi ayahnya HARUS meluangkan waktu untuk anak lakilakinya terkait ini. Ini penting, supaya anak mendapat edukasi dari orang yang tepat, bukan ke orang atau sumber yang malah membahayakan J

Nah manteman, sekian itu cuplikan tulisan tentang pendidikan seksual anak usia dini yang dicomot dari instastorynya ka @nadhiraarini yang sedikit gita improvisasi hehe. Semoga ini bisa membantu temanteman untuk mengedukasi anak, keponakan, tetangga, atau siapapun di sekitar kita supaya tidak sampai menjadi korban kekerasan seksual. Dan kalau misalnya temanteman merasa postingan ini masih kurang informative, gita mohon maaf sebesarbesarnya. Kita masih samasama belajar. Ya kan?

Wassalamualaikum J

Warm Heart
Gita J





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bringing Idea Into Reality

Assalamualaikum, halo. Postingan kali ini sepertinya akan agak berisi ya (semoga). Hehe. Mumpung dapet kesempatan sharing sedikit sama tementemen dari mercusuar bangsa J Jadi, sesuai judul dari diskusi online kali ini “Bringing Idea Into Reality”, saya akan mencoba berbagi tentang bagaimana cara mendapatkan ide dan mengelolanya dengan baik. Ide yang akan bahas disini konteksnya dalam dunia penelitian dan kepenulisan ya.   Semoga bermanfaat J Sebelumnya, saya sendiri sudah cukup familiar dengan dunia penelitian dan lombalomba dari SMP. Ada banyak saat dimana saya harus legowo untuk menerima bahwa ide saya tidak cukup baik untuk bersaing dengan temanteman yang lain atau mungkin tidak uptodate dan kurang memberikan solusi yang baik terhadap masalah yang ada. Sampai tiba saat saya kuliah dan Alhamdulillah diberi kesempatan untuk ikut beberapa lomba penelitian dan kepenulisan baik tingkat nasional dan international. Kemudian, banyak yang bertanya pada saya, gimana sih cara car...

Menjawab Pertanyaan "Kapan?"

Assalamualaikum. Halo.. Hai.. Mau sedikit cerita, sisa lebaran kemarin.. Sore itu, satu chat masuk ke wassap. Dari seorang teman jaman kuliah kemaren. Sebutlah namanya Juki. Kira-kira begini isinya Juki: Assalamualaikum Gita, Mohon maaf lahir batin ya.. Gita: Waalaikumsalam. Iya Juk, maaf lahir batin juga ya.. Juki: Undangannya jangan lupa ya git.. Gita: Undangan apa Juk? (purapura nggak peka) Juki: Ya mungkin undangan syukuran, lamaran, atau bisa juga undangan nikah.. Glek. Alamak ini anak baru juga minta maaf uda bikin dosa lagi dia. Jangan ditiru ya teman-teman. Wkwk. Becanda Ngomong-ngomong soal pertanyaan “kapan” ini, pastilah kita semua pernah mendapatkan pertanyaan semacam itu. Kapan sendiri banyak macamnya. Nggak akan ada habisnya. Dan tentu saja yang paling hits dikalangan seumuran saya ini tentu saja jenis kapan yang “Kapan Nikah?” Untuk yang sudah punya pasangan pasti enteng-enteng saja ya jawabnya. Lain lagi ceritanya kalau macam saya yang b...

Kenapa Juga Resah?

Padahal, Allah sebaik-baiknya perencana. Kenapa masih aja resah? Padahal, Allah yang paling tau apa yang kita butuh, kenapa masih juga ragu? Ah manusia, begitu mudahnya kita terlena bisikan-bisikan syeitan untuk terus mempertanyakan ini dan itu. Untuk terus mengelanakan pikiran memikirkan hal-hal yang sudah jadi kuasa Allah. Eh, saya ding tepatnya. Padahal, buat apa? Buat apa mempertanyakan kuasa-NYA? Sudah jelas, apapun yang Allah berikan adalah yang terbaik untuk hamba-hambaNYA. Sudah jelas, apapun takdir yang Allah beri terselip pembelajaran di dalamnya. Sudah jelas juga janji Allah bahwa kemudahan selalu membersamai kesulitan, semudah atau sepelik apapun masalahnya. Jadi inget sama postingan ustadz Hanan Attaki baru-baru ini soal salah satu ayat di surah Al-Insyirah tersebut. Hampir semua orang familiar dengan surah ini, pun dengan arti dan maknanya. Bahwa setiap kesulitan selalu bersama dengan kemudahan. Tapi, apa semua dari kita percaya? I mean, apa semua dari kita benar-benar...