Langsung ke konten utama

Tentang Menikah


Assalamualaikum..

Kalo sekarang ditanya pengen nikah apa engga, jawabannya masih sama: pengen. Wqwq. Tapi pemahamannya sudah jauh beda.
Kalo dulu banget, pengen nikah karena dorongan sosial, kalo sekarang lebih karena pengen membentuk keluarga kuat di jalan Allah.
Dari hasil kontemplasi panjang setelah pulang dari Depok, akhirnya Gita sadar kalo menikah itu, baik untuk perempuan dan laki-laki sama-sama mencari surga. Untuk perempuan, jelas, setelah menikah surganya berpindah, dari ridha ibunya ke ridha suaminya. Sementara untuk laki-laki, haruslah mereka memilih istri yang baik karena istrinya akan menjadi surga untuk anak-anaknya kelak.
Memutuskan menikah juga berarti kita harus siap untuk menjalankan peran sebagai orang tua. Berkaitan dengan ini, kita harus ingat bahwa, anak-anak kita nanti gabisa tuh milih siapa ayah ibunya. Kitalah yang punya andil besar untuk menentukan itu.
Anak-anak kita berhak lahir dari seorang ibu yang cerdas, yang kuat imannya dan baik akhlaknya, yang bisa jadi madrasah pertama terbaik untuknya.
Anak-anak kita nanti, juga berhak punya ayah yang bisa menjadi tauladan baik untuknya, nahkoda kuat yang siap bekerja keras dan membimbing mereka.
Kalo kata orang, "Udah tua, ngga usah pilih-pilih" tu menurutku ngga bener banget. Karena justru, kita dituntut selektif dalam memilih pasangan. Karena dia kan yang akan menemani kita sampai akhir hayat nanti insyaallah. Yang akan jadi ayah/ibu anak-anak kita. Tapi balik lagi ke diri kita sendiri, jangan harap kita dapat jodoh yang baik, kalo kitanya ngga baik. Sudah janji Allah kan kalo lelaki yang baik akan berjodoh dengan wanita yang baik, begitu sebaliknya.
Karena menurut Gita, menikah tu sama kaya kita investasi. Kalo kita punya modal banyak, ada banyak kemungkinan untuk beli saham yang potensial, tapi kalo gaada modal, ngga mungkin kan? Begitu ibaratnya.
Dari situ juga Gita sadar kalau menikah itu harus cukup ilmunya. Bukan ahli gitu sih maksud Gita. Tapi paling tidak menyiapkan. Sedikit-sedikit baca buku, ikut kajian, atau seminar yang arahnya sesuai dengan visi misi keluarga yang ingin kita bangun nanti. Alhamdulillahnya sekarang udah banyak banget media yang memfasilitasi kita untuk belajar banyak hal terkait pernikahan, kehidupan berumah tangga, ilmu parenting, dsb. Tapi lagi-lagi, Gita rasa ini juga ngga saklek gitu. Maksudnya ngga saklek harus nunggu paham ini itu dulu baru nikah. Jodoh kan rejeki juga yang kita ngga tau kapan datangnya. Ada yang Allah kasih dulu jodohnya, kemudian sama-sama belajar dalam rumah tangga mereka. Ada yang Allah simpan dulu jodohnya, memberi waktu untuk belajar baru dipertemukan dengan jodohnya. Tenang aja, dunia ngga sesaklek itu Esmeralda, yang jelas, belajar itu penting. Karena hidup terus berkembang, begitu juga dengan manusia dan semua komponen yang mengelilingi kita. Jadi, punya pasangan yang mau diajak belajar, bekerja sama, dan suportif itu penting. Coba bayangin kalo kita “nggetu” belajar sendiri tapi pasangan kita nggak mau belajar. Ilmu kita nambah, dia disitu-situ aja. Pada akhirnya tujuan dan pola piker kalian akan beda kan? Gitu sih.
Hmm.. Hmm.. Sepertinya sudah mulai berat syekali postingan kali ini. Mungkin ada baiknya kita akhiri disini *ceilah
Tapi sebelum Gita tutup, Gita mau mengingatkan sikit kalo matematika kita di dunia tu beda jauh sama matematika Allah. Apapun bisa terjadi. Maka, semoga, terkait pemahaman tentang pernikahan ini tidak membawa Gita menjadi pribadi yang pemilih. Semoga senantiasa Allah luaskan syukur Gita atas takdir yang Allah berikan setiap waktunya. Juga, semoga Allah jaga semangat Gita untuk terus belajar. Pun untuk kalian semua yang mungkin ngga sengaja baca postingan (semoga engga) ga jelas ini.
Dari Gita, seseorang yang belum menikah tapi sok-sok an nulis “Tentang Menikah”

Wassalamualaikum. Happy Friday Night. Jangan lupa baca Al-Kahfi J



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bringing Idea Into Reality

Assalamualaikum, halo. Postingan kali ini sepertinya akan agak berisi ya (semoga). Hehe. Mumpung dapet kesempatan sharing sedikit sama tementemen dari mercusuar bangsa J Jadi, sesuai judul dari diskusi online kali ini “Bringing Idea Into Reality”, saya akan mencoba berbagi tentang bagaimana cara mendapatkan ide dan mengelolanya dengan baik. Ide yang akan bahas disini konteksnya dalam dunia penelitian dan kepenulisan ya.   Semoga bermanfaat J Sebelumnya, saya sendiri sudah cukup familiar dengan dunia penelitian dan lombalomba dari SMP. Ada banyak saat dimana saya harus legowo untuk menerima bahwa ide saya tidak cukup baik untuk bersaing dengan temanteman yang lain atau mungkin tidak uptodate dan kurang memberikan solusi yang baik terhadap masalah yang ada. Sampai tiba saat saya kuliah dan Alhamdulillah diberi kesempatan untuk ikut beberapa lomba penelitian dan kepenulisan baik tingkat nasional dan international. Kemudian, banyak yang bertanya pada saya, gimana sih cara car...

Review Pre Marriage Talk “Menjadi Manajer Keuangan Andalan Keluarga” By: Mba Apik (Aji Nur Afifah)

Assalamualaikum mantemans semuaa. Kali ini Gita mau sedikit sharing. Alhamdulillah kapan hari dapat kesempatan ikutan kulwap mamah muda panutanku, Mba Apik istrinya Mas Gun yang femes itu. Alhamdulillah juga banyak banget ilmu yang bermanfaat dari kulwap itu sampe Gita melongo-longo saking nggak nyangkanya kalo mengurus keuangan keluarga tu, sepenting itu hehe. Tapi jujur sahaja saking banyaknya ilmu yang dishare, jadi bingung ngereviewnya. Ingin di copas semua saja wqwq. Tapi engga ding, insyaallah bakal Gita tulis pelan-pelan dan rinci disini: A. Tentang Istri dan Kewajiban Penjagaan Harta “Sebaik-baiknya wanita adalah ia yang menyenangkan bila engkau memandangnya, dan mematuhimu bila engkau perintah, serta menjaga dirinya dan hartamu ketika engkau tidak ada di rumah.” Dari salah satu pesan Rasuluallah tersebut, jelas sudah bahwa salah satu ciri istri yang baik adalah mereka yang mampu menjaga harta suami maka sudah sepatutnya istri juga harus terus belajar terkait pe...

How Moeslem Thougt About Islam It Self

"Apaan si, pake rok kok tumpuk-tumpuk banget." "Itu rok mau sekalian ngepel lantai ya lebar banget." "Gausa yang aneh-aneh lah, yang biasa-biasa aja islamnya." "Kamu ikut aliran mana?" Astaghfiruallah.. Kadang, cuma bisa mengelus dada, senyum kecut sambil ngernyit bingung kalau denger ucapan-ucapan semacam itu. To be honest pertanyaan-pertanyaan di atas juga cukup sering ditanyakan ke saya setahun terakhir. Sedihnya ucapan semacam itu justru dilontarkan saudara-saudara seiman saya. Kadang setelah ada pertanyaan-pertanyaan semacam itu suka merenung sih. Merenung motif, alasan mereka sampai bicara kaya gitu. Merasa yang mereka lakukan, mereka yakini sudah benar kah? Atau memang basicly "nyinyir" sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging? Entahlah. Tapi personally, saya sendiri merasa ungkapan-ungkapan semacam itu tidak seharusnya dilontarkan, apalagi pada seseorang yang sedang berusaha memperbaiki akhlaknya.  Sebener...